"AMAL" Sepakati Kontrak Politik Dengan Masyarakat

Di hadapan pendukungnya, pasangan ini melalui juru kampanye (Jurkam), Julyadin, membacakan kontrak politiknya jika terpilih..

Pakpak Bukan Batak

Pakpak Bukanlah Batak , dikarenakan pakpak memiliki sejarah dan adat , bahasa dan budaya yang berdeda.

LP KLS I Cipinang Sesi Latihan

Tarian Aceh merupakan tarian yang akan dibawakan oleh Pegawai LP Cipinang.

Visite Danau Sicike-cike

Surga Angrek , dan Danau indah serta alam yang sejuk, dan Air terjun yang Indah. menambah Panorama disana semakin Komplit.

Bupati Keren Indonesia

Muda, Bersinenergi dan Keren . ialah Sosok Pemimpin yang sedang Memimpin Kabupaten Pakpak Bharat.

Thursday, 31 October 2013

Perumpamaan Suku Pakpak





(1) Bage tunas leleen mi dates, bage tongkoh leleen mi teruh. (Seperti tunas menuju ke atas, seperti bonggol  kayu menuju ke bawah). Artinya, perumpamaan ini menggambarkan bahwa generasi muda penerus untuk memajukan suatu bangsa (suku bangsa, generasi tua akan tertinggal karena dimakan usia.

(2) Ulang bage takur-takur pellin menaongi dirina. (Jangan seperti tumbuhan takur-takur yang hanya memayungi dirinya). Artinya, perumpamaan ini diidentikkan kepada seseorang yang hanya mementingkan diri sendiri dan sifat tersebut tidak perlu dicontoh.

(3) Ulang kekeen baka ndilo.
(Jangan seperti mengangkat sumpit (baka) dari bahan kulit Ndilo (jenis kayu)). Perumpamaan ini ditujukan kepada seseorang yang bersifat malas dan orang yang sangat tergantung dengan orang lain. Sudah dibantu tapi tidak dimanfaatkan untuk kemajuan hidupnya dan tetap malas. Sifat ini tentu perlu ditinggalkan sehingga orang-orang tua kita dulu menciptakan pribahasa ini dan disampaikan pada saat mengajari anak- anaknya atau pada saat menasehati orang lain baik secara formal maupun informal.
(Variasi lain : Ulang bage pekekeken baga ndilo)

4.  Nikerisken panas ngo asa olih (harus berkeringat agar dapat rejeki). Perumpamaan ini ditujukan kepada individu kalau hendak berhasil harus bekerja keras. Perumpamaan ini selalu dikatakan orang tua kepada anak-anaknya agar rajin bekerja, rajin sekolah dan konsisten.

5.  Lojang lot jalangen, tendo lot pemaen (lari ada yang mau dikejar, berhenti berarti ada yang mau ditunggu). Perumpamaan ini diartikan bahwa dalam hidup harus ada perencanaan, bertindak harus didasari oleh pikiran jernih dan memiliki alasan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Boang Adalah Bagian Dari Pakpak ,


Daerah Boang . Jembatan Laekombih


WILAYAH dalam pandangan antropologi dilihat sebagai suatu kesatuan daerah yang didiami oleh sebentuk komunitas atau suku, sehingga dalam suatu wilayah bisa terdapat hanya satu komunitas atau suku maupun satu wilayah yang didiami oleh beberapa komunitas atau suku.
Konsep wilayah dalam pandangan antropologi pertama kali dikemukakan oleh antropolog Amerika , M.J. Herskovits. Kemudian konsep wilayah kebudayaan dikenal dengan istilah culture area, Antropolog G.P. Murdock menyusun suatu sistem terhadap daerah-daerah kebudayaan di Afrika serta mengklasifikasikan daerah-daerah kebudayaan tersebut melalui unsur perbedaan bahasa dan perbedaan sistem kekerabatan Melalui konsep culture area yang hendak didapatkan adalah untuk menarik satu garis merah yang menjadi persamaan bagi penduduk suku-suku bangsa yang mendiami wilayah tersebut. Tulisan ini ditujukan untuk turut memberikan jawaban atas satu pertanyaan yang “menggelitik”, yaitu : Boang Tidak atau Sama Dengan Pak pak, Ditujukan kepada sebagian orang yang beranggapan bahwa Boang tidak sama dengan Pak-pak, Sebelumnya definisi tentang suku Pak pak adalah terdiri dari lima sub-group, yaitu Keppas,Simsim,Klasen, Pegagan, dan Boang. Keempat sub-group tersebut terdistribusi di Sumatra Utara dan relatif komunitas mereka bereda di daerah pegunungan bukit barisan.Sementara Komunitas Boang hidup relatif di daerah pinggiran sungai besar yang langsung bermuara ke laut Singkil yaitu sungai Simpang Kanan dan Sungai Simpang Kiri dan yang selanjutnya secara territorial berada dalam kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam Aceh. Di dalam kehidupan sehari-hari banyak orang mengasosiasikan kata “Pak pak” dengan ‘pak pak Boang. Alasan perbedaan agama ANGGGAPAN bahwa Boang bukan Pak pak didasarkan keadaan dilapangan bahwa pada umumnya etnis Pak pak memiliki agama yang berbeda dengan etnis Boang, Dalam hal ini agama Islam dan Kristen–baik Protestan maupun Katolik, dimana Boang termasuk homogen beragama islam. Apabila anggapan tersebut yang menjadi dasar anggapan maka telah terjadi pengkerdilan terhadap proses berfikir secara kritis . Karena sebagaimana diketahui, agama muncul setelah kebudayaan muncul dari suatu masyarakat, dan diadopsi dalam kehidupan masyarakat tersebut. Dalam kebudayaan Boang maupun Pak pak secara keseluruhan, agama agama tersebut muncul dan dianut setelah mengalami proses yang lama, Konsep agama pada dahulunya didasarkan pada dinamisme dan animisme. Dari apa yang telah dipaparkan, pupus sudah anggapan yang menyatakan bahwa Boang bukan Pakpak karena faktor agama. Alasan perbedaan bahasa HAL lain yang menganggap bahwa Boang bukan Pak pak didasarkan karena Boang memiliki perbedaan bahasa dengan bahasa Pak pak, Anggapan ini runtuh dengan jawaban bahwa bahasa atau linguistik pada awalnya sama namun karena dipengaruhi factor lingkungan, kebiasaan dan hal lain maka terjadi pergeseran dari bahasa semula. Namun ternyata pergeseran ini pun tidak menimbulkan perbedaan yang berarti. Bahasa pakpak dan bahasa boang secara garis besar persis sama. Perbedaannya hanya pada cirri kosa kata yang memakai konsonan R pada
pak pak, sedangkan Boang diucapkan secara uvular sebagai ‘Kh’ Faktor bahasa yang menjadi pembeda antara Boang dan Pakpak juga bukanlah faktor yang memiliki perbedaan signifikan antara Boang
dan Pakpak Alasan Perbedaan Marga Bahwa Boang memiliki marga tersendiri
seperti Kombih, barat, dan malayu perlu penelitian lebih lanjut. Luas diyakini bahwa identitas budaya ( dengan sengaja ) dibentuk atau dibangun ( Maunati, 2004:23). Demikian juga dengan marga sebagai suatu identitas. Marga trsebut dibangun pleh nenek moyang marga tertentu. Identitas marga tersebut dibentuk sesuai dengan nama nenek moyang mereka terdahulu.Misalnya identitas marga Padang, diambil dari nama nenek moyang mereka yang bernama si Padang. Dalam banyak studi telah diperlihatkan bahwa perubahan wilayah tempat tinggal,latar belakang sosial, dan latar belakang kebudayaan merupakan kontek yang member warna bagi identitas kesukubangsaan
( Abdullah, 2006:43). Demikianlah kemungkinan yang terjadi dalam kasus marga marga boang yang telah disebutkan diatas tadi, ketika mereka merantau dari daerah asal ke daerah yang lainnya, maka mereka membuat warna identitas untuk kepentingan tertentu. Dan bukankah marga marga Boang banyak sekali yang mirip atau sama dengan marga marga Pakpak. Perbedaan-perbedaan yang menjadi landasan anggapan bahwa Boang dan pakpak hilang dengan sendirinya apabila dikaji secara mendalam, Usaha-usaha pembedaan yang mengarah pada pemisahan antara Boang dan Pakpak merupakan taktik strategi bangsa penjajah (Belanda) untuk memecah persatuan dan keutuhan Nusantara. Sampai saat ini masih ada orang, kelompok yang mempertahankan anggapan bahwa Boang bukan bagian dari Pakpak secara luas. Alasan karena perbedaan adat istiadat. Sama dengan lahirnya marga baru sebagai bentuk identitas, maka perbedaan adat istiadat Boang dengan pakpak dimungkinkan karena memang identitas budaya itu bukan suatu yang stagnan lalu berhenti tampa perubahan. Identitas budaya ( dengan sengaja) dibentuk atau dibangun. Dengan demikian budaya tersebut terus secara terus menerus merekontruksi dirinya sesuai dengan keinginan atau kepentingan dari masyarakat yang menganutnya. Mengenai perubahan budaya sebagai bentuk identitas Nainggolan (2006:107) menjelaskan ada 6 faktor yang menyebabkan perubahan identitas : (1) kultur homogen (2) besarnya jumlah kelompok etnis, (3) kultur dominan lokal (4) tekanan dari kultur homogen, (5) kultur lokal yang plural, dan (6) waktu. Menurut hemat saya keenam enam unsur yang disebutkan diatas sangat dominan mempengaruhi mengapa terjadi pebedaan adat istiadat antara pakpak dengan boang. Apalagi kita kaitkan dengan betapa lamanya boang
terbelenggu dengan akar budayanya akibat terputusnya akses ke akarbudayanya yaitu pakpak.
Pak pak itu satu, kenapa ingin pisah ? Anggapan bahwa Boang bukan Pakpak merupakan tindakan “kekonyolan pemikiran” yang kemungkinan menyebabkan destruct knowledge, Menurut hemat penulis keinginan “anggota etnis Boang” untuk tidak menyamakan Boang dengan Pakpak,merupakan strategi yang didasari rasa superior, primordialisme, dan emosi keagamaan berlebih. Sejatinya seorang antropolog dilarang memasukkan unsur-unsur superior, primordialisme dan emosi keagamaan berlebih dalam menyikapi satu masalah, Mudah- mudahan tulisan ini dapat membuka cakrawala pemikiran terhadap pandangan yang ada. Boang masuk kedalam bagian Pakpak secara Luas. Karena Pakpak secara luas merupakan representasi sub sub entik pakpak, yang memiliki akar budaya dan wilayah yang sama.
Kata akhir tulisan ini untuk membuka diri terhadap proses perkembangan namun dengan memperhitungkan aspek perkembangan tersebut, marilah kita bersatu dalam Pak pak secara luas dan tidak mengkotak-kotakkan diridalam pemikiran yang sempit.

Asal Muasal Sungai LAEKOMBIH



I sicike cike nai soh mi boang
Sekilas Tentang Sungai Lae Kombih
Sepintas Lae Kombih
Sungai Lae
Kombih
adalah sebuah
sungai yang
berhulu di
Sungai Sicike-
cike, Desa
Jambu
Kabupaten
Pakpak Bharat
Sumut.
Bantaran
Sungai Lae
Kombih membelah pegunungan-pegunungan
Kabupaten Pakpak Bharat, mengaliri sejumlah desa di
wilayah Kota Subulussalam dan bermuara di Sungai
Lae Souraya (Krueng Singkil), tepatnya di Kampong
Binanga Kecamatan Runding Kota Subulussalam.
Sungai Lae Kombih memiliki beberapa sutruktur
sungai, mulai dari struktur apitan tebing, struktur
bebatuan dan sutruktur berpasir. Seperti sutruktur
sungai apitan tebing dapat kita temui di daerah
Kabupaten Pakpak Bharat, dan sutruktur sungai
bebatuan dapat kita lihat di daerah Kampong Jontor
dan Kampong Sikelang Kecamatan Penanggalan,
serta struktur sungai berpasir di sepanjang
Kampong Penanggalan Kecamatan Penanggalan
hingga ke Kecamatan Runding.
Kondisi struktur Sungai Lae Kombih memiliki aspek
ekonomis terhadap masyarakat di sekitarnya, seperti
penambangan batu mangga (koral) di Kampong
Penanggalan dan penambangan pasir di Kampong
Pelayangan Kecamatan Rundeng. Kegiatan ini
sangat memberikan motivasi pendapatan hidup bagi
masyarakat di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS)
Sungai Lae Kombih dan juga kebutuhan pengairan
persawahan dan sejumlah ladang pertanian
masyarakat.
Sejarah Singkat
Konon, sebutan Lae Kombih berawal dari kelompok
adat nelayan yang bermarga Kombih (sub kelompok
dari suku pakpak), nelayan-nelayan ini dulunya
menggantungkan hidup mereka dari kegiatan
penangkapan ikan di sepanjang alur sungai tersebut.
Kondisi ini memungkinkan, mengingat sungai
tersebut kaya dengan beragam jenis ikan.
Kampong Binanga muara sungai Lae Kombih, adalah
dudukan pemangku adat marga Kombih, bahkan
menurut kesaksian masyarakat dilokasi ini dulunya
pernah berdiri Kerajaan Kombih, sehingga segala
kegiatan nelayan didaerah ini mendapat restu dari
seluruh elemen masyarakat kala itu.
Berawal dari jejak historis tersebutlah muncul nama
sungai Lae Kombih, Lae yang berarti sungai,dan
Kombih yang merupakan marga para penghuninya
menjadi awal penyebutan nama sungai tersebut.
Sehingga para pemangku adat di daerah hulu
(Kabupaten Pakpak Bharat) dan seluruh masyarakat
sekitar juga menyebutnya Lae Kombih.

MISTERI DIBALIK KEINDAHAN AIR TERJUN LAE MBILULU




Sampuren Sindates, Lae Mbilulu yang terletak di Pronggil Julu Kecamatan Tinada Kabupaten Pakpak Bharat, kini menjadi idola baru sebagai daerah kunjungan wisata di daerah ini. Setiap minggu tingkat kunjungan cukup ramai khususnya kalangan remaja. Hari-kehari tingkat kunjungan tersebut meningkat tajam, meskipun jalan menuju lokasi belum dapat dilalui kenderaan khususnya roda empat. Pengunjung masih diharuskan berjalan kaki sepanjang dua kilometer. Terlihat memang upaya pembenahan, meskipun masih terkesan setengah hati. Air terjun yang tingginya kurang lebih empat puluh meter dan bertingkat. Ada tujuh tingkatan yang harus dilalui air sebelum jatuh ke tanah. Selain itu, air mengalir
terbelah dua sehingga menambah keindahannya. Sementara dikiri kanan air terjun terdapat pemandangan yang cukup indah dengan dedaunan hijau. Percikan air yang menyentuh badan terasa dingin dan menyejukkan. Air yang relatif masih jernih menambah keindahan pemandangannya. Ketika rintis prana menelusuri, keberadaan sampuren itu, terungkap bahwa dahulu kala tempat itu adalah merupakan salah satu tempat penyembahan (bekkas memele), diantara lokasi yang sama yang ada di sekitar itu. Artinya orang sering menghantarkan makanan ke tempat itu karena dipercaya memiliki penghuni. Penghuni tersebut menurut warga diantaranya adalah sige Grahgah (kepiting) yang lebarnya “ nasa nderu” atau tampi empat persegi. Atau kira-kira lerbarnya kurang lebih 80 cm. Kemudian juga ada
“Katimukmuk nasa Kocing” atau ulat bulu sebesar kucing dewasa. Kemudian manuk-manuk
Tarak-tarak, (burung tarak-tarak) yang paruhnya menyerupai enggang, dan lebih besar dari jenis
burung ini Menurut Hasan Sinamo “sampuren” sering mengeluarkan bunyi yang terdengar hingga ke
kampung warga dan menurut cerita hal itu terjadi manakala air terjun menyentuh punggung
kepiting, atau ketika “gurung Sige Grahgah I tutui lae sampuren”. Hal itu sering terdengar
pada saat kemarau, atau tidak sedang ada hujan. Barangkali, Sige Grahgah sedang “mukupen”
sehingga perlu menyiram diri di air terjun. Dan apabila dengungan suara terdengar, maka warga
memastikan akan segera turun hujan atau “naing ari perudan”. Sementara kisah tentangKatimukmuk disukutkan Hasan yang didukung adik kembarnya Udin Sinamo, pernah pada satu
ketika kakek moyang atau salah satu mpung Sinamo sedang “merlambuk” mengambil daunubi jalar ditempat itu dan secara tidak sengaja ulat bulu sebesar kucing itu menempel di labuknya dan ikut terbawa ke kampung. “Tikan takuak manuk i begge mpung Sinamo mo tenggo-tenggo, begu asa i ulakken katimukmuk siterekut i”. Penghuni atau begu sampuren berteriak dan memanggil-manggil. “ Taruhken ke Kocingku, taruhken ke Kocingku….!” ( antarkan kucingku, antarkan kucingku…!) demikian kira-kira bunyi panggilnnya. Mpung Siamo lalu melihat “lambuknya” dan terlihatlah olehnya ulat bulu sebesar seekor kucing. Panggilan itu lalumengusiknya dan diapun segera mengembalikan ulat bulu ke sampuren. Sementara itu, Manuk-manuk tarak-tarak tidakdiceritakan apa kisah yang membuktikan cerita mereka. Tetapi menurut penuturan keduanya suaranya sangat khas. “ketekuk, ..ketekuk.. kak…
kak… kak..” katanya mencoba menirukan.Jenisburung itu kini tidak lagi berada disana, dan
menurut Udin Sinamo kepergiannya pada masa masuknya agama kristen ke daerah itu.
“Bagendari oda lot nenge i sampuren dekket I kuta en”, ceritanya kepada rintis prana. Dan dia memastikan besarnaya lebih dari burung enggang. Dia meyakini bahwa “Manuk-manuk” ini pindah mi daerah Karo, sebab dia pernah ke Liang Pangi dan i Lae Bahbah, dan melihat jenis burung yang sama ada disana. Warga setempat mengakui bahwa jenis burung itu keberadaannya tergolong baru, artinya hampir bersamaan dengan kepergiannya dari daerah pronggil. “Kukuso kami kalak Karo sinikuta i bahwa manuk-manuk en oda ndekkah deng lot i si”, tegasnya meyakinkan. Dahulu menurut “sikembar” ini, setiap kali ada pengunjung luar kuta ke sampuren dipastikan akan turun hujan. Mereka sendiri tidak dapat memastikan apakah hal itu sebagai pertanda larangan atau bukan. Meskipun mereka menduga itu sebagai larangan. “Asal roh misi jelma, kennah roh udan nderras merdengan singgar”, tegasnya. Tetapi menurut beberapa orangtua, sebagaimana diakui Togatorop Sinamo sejak dahulu kala
meskipun diduga berpenghuni, warg tidak pernah mendapat gangguan apa-apa. Artinya dia tidak
“mengago” atau menggangu dan merugikan. Meski demikian, sebagaimana diceritakan diatas, warga sering mengahantarkan makanan ke lokasi yang dianggap sebagai “peleen”. Ditengah
sampuren ini dulu juga terdapat sebatang kayu yang dalam masyarakat Pakpak dikenal sebagai kayu “Ntonu” atau sejenis kayu Serpo. Kayu ini hanyut terbawa air pada saat banjir besar melanda daerah ini pada tahun 2000. Selain itu diatas batu, sekitar pertengahan air terjun terdapat gua. Gua itu hingga kini dikenal dengan “gua sampuren”. Lobangya cukup besar meskipun jika ingin masuk kedalam gua ini orang harus menunduk tetapi di dalam gua diameternya lebih besar, orang dewasa bisa berdiri.. Gua itu cenderung gelap sehingga tidak ada warga yang bisa mengetahui isi didalamnya. Warga sekitar sangat mendukung upaya pemerintah untuk menata lokasi air terjun ini, dan menjadikannya kawasan wisata. Tetapi mereka meminta agar tidak merobah namanya, sebab seringkali dalam penulisan disebut menjadi
Sampuren Lae Simbilulu. Padahal aslinya adalah Sampuren Sindates Lae Mbilulu.Dan cerita ini menurut mereka bukanlah dimaksudkan untuk menakut-nakuti, tetapi hanya menggambarkan bahwa dilokasi itu dahulu ada misterinya. Sebagaimana dituturkan, tidak pernah ada peristiwa yang menakutkan apalagi mencelakakan